<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>gigi &#8211; RSU PINDAD</title>
	<atom:link href="https://webs.rsupindad.com/tag/gigi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://webs.rsupindad.com</link>
	<description>Rumah Sakit Keluarga</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Aug 2019 02:08:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.2</generator>

<image>
	<url>https://webs.rsupindad.com/wp-content/uploads/2025/04/cropped-pmu-32x32.png</url>
	<title>gigi &#8211; RSU PINDAD</title>
	<link>https://webs.rsupindad.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Tahukah Anda?? Karang Gigi Bisa Menyebabkan Gigi Goyang dan Lepas Dari Gusi</title>
		<link>https://webs.rsupindad.com/tahukah-anda-karang-gigi-bisa-menyebabkan-gigi-goyang-dan-lepas-dari-gusi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas RSU]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 28 Aug 2019 02:08:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dental]]></category>
		<category><![CDATA[gigi]]></category>
		<category><![CDATA[karang gigi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan gigi]]></category>
		<category><![CDATA[tartar]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://webs.rsupindad.com/tahukah-anda-karang-gigi-bisa-menyebabkan-gigi-goyang-dan-lepas-dari-gusi/</guid>

					<description><![CDATA[Kebanyakan orang menganggap bahwa karang gigi bisa mempertahankan gigi lebih lama di dalam mulut, dengan alasan karang gigi menutupi gigi tersebut sehingga tidak akan berlubang dan tidak akan tersangkut makanan ketika makan. Terkadang yg mereka keluhkan adalah bau mulut dan pendarahan ketika menyikat gigi. Pada dasarnya, karang gigi terbentuk karena adanya sisa makanan yang tidak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kebanyakan orang menganggap bahwa karang gigi bisa mempertahankan gigi lebih lama di dalam mulut, dengan alasan karang gigi menutupi gigi tersebut sehingga tidak akan berlubang dan tidak akan tersangkut makanan ketika makan. Terkadang yg mereka keluhkan adalah bau mulut dan pendarahan ketika menyikat gigi.</span></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya, karang gigi terbentuk karena adanya sisa makanan yang tidak dibersihkan lalu bereaksi dengan kuman ditambah dengan tingginya pH air liur dalam mulut sehingga akan membentuk garam. Awalnya akan menjadi plak kemudian bertumpuk menjadi karang gigi atau di dunia kedokteran disebut </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kalkulus</span></i><span style=\"font-weight: 400;\">.</span></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak yang tidak mengetahui bahwa karang gigi sebenarnya dapat memperburuk kondisi gigi bahkan bukan hanya gigi nya saja tetapi jaringan pendukung struktur gigi.</span></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karang gigi yang menumpuk hingga strukturnya menyerupai mahkota gigi tersebut sangatlah berbahaya. Tanpa kita sadari karang gigi membuat sisa makanan dan kuman terjebak di dalamnya sehingga dapat menyebabkan gigi berlubang. Selain itu, ketika karang gigi dibiarkan akan semakin menumpuk, jaringan di bawahnya tertekan, dan mengakibatkan peradangan. Oleh karena itu, ketika menyikat gigi akan menyebabkan pendarahan. Lebih parahnya, jika dibiarkan dapat menyebabkan gigi goyang karena proses kerusakan terus berlanjut dari peradangan pada gusi, kemudian karang gigi semakin menumpuk sehingga mendorong gusi dan menyebabkan akar gigi terekspos, dan apabila tetap dibiarkan juga maka akan merusak jaringan penyangga gigi sehingga gigi tersebut akan goyang, dan untuk kegoyangan gigi yang parah gigi tidak bisa dipertahankan. Mengapa demikian? Karena jaringan penyangga gigi telah rusak dan gusi mengalami penurunan / </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">resesi</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> sehingga tidak ada jaringan yang dapat memegang gigi tersebut secara utuh. Pada kasus akar gigi yang terekspos karena karang gigi, sebelum kerusakan lebih lanjut segeralah melakukan pembersihan dan </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dental check up.</span></i></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembentukan karang gigi dapat dihambat dengan cara sikat gigi minimal 2 kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Cara menyikat gigi sehari-hari yang benar adalah dengan cara memutar dan digetarkan. Jangan lupa bagian gusi ikut dipijat agar gusi sehat. Sikat gigi tidak boleh dengan gerakan horizontal atau vertikal kecuali pada kasus tertentu. Dengan tekanan ringan, bulu sikat lembut, lalu gunakan </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dental floss /</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> benang gigi untuk sela gigi dan melakukan </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dental check up</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> serta </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">scaling</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> (pembersihan karang gigi) ke dokter gigi.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><i>Oleh: Derry Puspitasari, drg., MM</i></strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pentingnya Deteksi Dini Gigi Berlubang</title>
		<link>https://webs.rsupindad.com/pentingnya-deteksi-dini-gigi-berlubang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Humas RSU]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 22 Jul 2019 03:11:07 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[dental]]></category>
		<category><![CDATA[gigi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan gigi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://webs.rsupindad.com/pentingnya-deteksi-dini-gigi-berlubang/</guid>

					<description><![CDATA[Gigi yang sehat merupakan impian semua orang. Namun, kebanyakan orang salah mengartikan kesehatan mulut hanya menjaga kebersihan giginya saja. Gusi yang sehat akan menjadi rumah yang sehat pula untuk gigi sehingga juga akan berpengaruh pada kesehatan gigi dan mulut. Ketika seseorang terganggu kesehatan giginya dapat mengakibatkan terganggunya kegiatan yang sedang atau akan dilakukan. Oleh karena itu, sebelum terlambat sangat [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img class=\"wp-image-5714 aligncenter\" src=\"https://rsupindad.com/wp-content/uploads/2019/07/adult-beautiful-facial-expression-774866-1024x683.jpg\" alt=\"\" width=\"296\" height=\"197\" /></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">G</span><span style=\"font-weight: 400;\">igi yang sehat merupakan impian semua orang. Namun, kebanyakan orang salah mengartikan kesehatan mulut hanya menjaga kebersihan giginya saja. Gusi yang sehat akan menjadi rumah yang sehat pula untuk gigi sehingga juga akan berpengaruh pada kesehatan gigi dan mulut. Ketika seseorang terganggu kesehatan giginya dapat mengakibatkan terganggunya kegiatan yang sedang atau akan dilakukan. Oleh karena itu, sebelum terlambat sangat disarankan untuk melakukan </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">dental check up</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> 6 bulan 1 kali.</span></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mempertahankan gigi selama mungkin di dalam rongga mulut merupakan salah satu tujuan kesehatan gigi, khususnya di bidang ilmu konservasi gigi. Idealnya gigi dalam keadaan utuh, vital, dan berfungsi dengan baik, tetapi selama pemakaian bisa saja terjadi kerusakan pada email dan dentin yang akhirnya melibatkan jaringan pulpa. Struktur gigi itu sendiri terdiri dari : </span></p>
<p><img class=\"size-full wp-image-5742 aligncenter\" src=\"https://rsupindad.com/wp-content/uploads/2019/07/struktur-gigi.jpg\" alt=\"\" width=\"224\" height=\"225\" /></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menyebutkan bahwa 93%  anak usia dini, yakni dalam rentang usia 5-6 tahun mengalami gigi berlubang. Ini berarti hanya 7% anak di Indonesia yang bebas dari karies gigi. Karies gigi merupakan proses rusaknya struktur gigi dari email hingga ke pulpa. Hal ini terjadi karena sejumlah faktor yang bereaksi seperti gigi itu sendiri, mikroorganisme, substrat,dan waktu.</span></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya pasien datang ke dokter gigi jika sudah merasakan sakit atau dalam kondisi kerusakan yang parah. Pasien yang terlambat menyadari terdapat gigi berlubang dapat berakibat seseorang kehilangan giginya. Ketika gigi tersebut harus dicabut maka fungsi pengunyahan, bicara,dan estetik akan terganggu. Misalnya, pasien yang kehilangan gigi insisivus atau yang biasa orang katakan sebagai gigi seri / gigi anterior akan sulit mengucapkan huruf “F, B, F, L, M, P, S, T, V” selain itu juga estetik akan terganggu sehingga mengurangi rasa percaya diri.</span></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasien dengan kasus gigi berlubang dan dapat diperbaiki harus sesuai dengan anatomi gigi, jika tidak sesuai dapat menimbulkan masalah dikemudian hari seperti tambalan </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">overhanging</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau biasa orang awam sebut tambalannya berlebih atau mengganjal dapat berakibat trauma oklusi. Oleh karena itu, penambalan gigi sesuai dengan anatomi itu penting selain mencegah kerusakan lebih lanjut, akan memperbaiki fungsi pengunyahan.</span></p>
<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas bahasan mengenai penyakit gigi tersebut dapat memberikan gambaran betapa pentingnya untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut serta penatalaksanaan yang benar untuk gigi yang bermasalah. Oleh karena itu,  </span><i><span style=\"font-weight: 400;\">periode dental check up</span></i><span style=\"font-weight: 400;\"> 6 bulan 1 kali wajib dilakukan untuk deteksi dini.</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>(Oleh: Derry Puspitasari, drg., MM) </em></strong></p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
